CERPEN : Jurang Sajak
Jurang
Sajak
Sepuluh keliling rak telah aku
hampiri. Belum puas rasanya. Sejenak aku berhenti, dan perhatian dalam tangan
kiriku sebuah buku Terang Bulan yang tidak seterang hatiku. Betul kini gelisah
tak menentu dan mau tak mau banyak berdatang hari yang lalu, yang penuh
penyesalan yang penuh kegagalan. Ini rak sepuluh aku berhenti, dan seberkas
bayang melekat disampingku seperti saat pertama bertemu. Kau tahu itu bukan.
Ajak aku berbincang tentang maharaja dan maharatu mu itu lagi. Atau padang
ilalang dibelakang rumahmu itu. Yang kau katakan saat pertemuan pertama kita
saat itu : “ “hei kamu, maukah kamu membantuku?” pintamu. “hei.. tentu, apa
yang mau dibantu?” jawabku polos. Kau pun mengatakan,”maukah kamu mendengarkan
ceritaku?” “. Aku akan mendengarkan dengan seluruh indera. Ceritalah lagi
untukku, jangan diam saja.
Bakalnya
memang salahku juga. Sayang tidak kucatat benar-benar dalam ucapanku hari itu.
Namun sekarang telah terlalu lama kau rasai, dan sepi mulai tak hingga. Ketika
kau tatap aku dan wajah mu yang bertepuk separuh tangan, tak kutemukan bahasa
rindumu lagi. Aku ingat saat biasanya sebelum ini terjadi, rindumu waktu itu : “
“tahu kah kamu?” tanyamu. “tahu apa?” aku balik bertanya. “saat aku rindu
padamu, aku bisa membuat seribu puisi rindu” katamu. “lalu aku bisa apa?” tanyaku
lagi. “kamu bisa membacanya, untukku,” “.
Aku
memejam mata. Tak juga kutemukan makna Nocturno atau fragment-nya pujangga muda
itu.................................................
Dalam diriku terbujur keinginan,
juga tidak bernyawa.
................................................
................................................
Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan![1]
Mungkinlah
tentu belum dalam ilmu dan perasaku, bahkan dengan mega pustaka yang ada waktu
itu. Sedang saat itu juga tiba-tiba kutemukan dirimu telah pas disisi
sampingku. Mengorek-orek buku tak tertata rapi itu dalam rak. Tidak begitu
jelas perkara siapa yang memulai mencoba mengajak bicara terlebih dahulu.
Seketika kita telah akrab saja. Bahkan aku sampai terlupakan maksud utama
kedatanganku, dan kedatangan awalmu juga mungkin.
Masih
tercium jelas olehku, bentuk manja tulisanmu, dari puisi yang kau buat untuk
aku dan kau ‘bersama selamanya’ itu. Waktu itu aku tanyakan padamu : “ “bagaimana
bila kamu tidak bisa menulis dan membaca puisi untukku lagi?”. “jika memang
harus begitu, aku akan merelakannya. Selama kamu ada untukku, menemani waktuku
karena ditinggal pergi puisi-puisiku, selamanya” jawabmu tulus. “kalau aku
tidak mau, bagaimana?” tanyaku dengan bercanda. “kalau begitu akan aku jewer
telinga kamu sekuat-kuatnya,” “. Kau tersenyum tertawa bersamaku. Hari-hari
yang indah sebelum waktu ini.
Kubacai
dan mamah puisi “Kepada Penyair Bohang”nya si pujangga muda ini, dan terngiang
pertanyaan dalam benakku.
Suaramu
bertanda derita laut tenang...
Si
Mati ini padaku masih berbicara
Karena
dia cinta, di mulutnya membusah
Dan
rindu yang mau memerahi segala
Si
Mati ini matanya terus bertanya![1]
.......................................................
Kenapa
aku merasakan sesuatu yang sangat dalam? Tetapi aku tidak bisa memahaminya,
atau apa aku harus mengalaminya? Juga entahlah. Puisi yang menarik. Tidak salah
aku berkunjung kesini. Walau aku harus berputar berkeliling. Sepuluh kali pula.
Dan kutemukan rak sepuluh yang istimewa. Akan kubacai puisi pujangga muda ini
lagi bila aku berkunjung kesini lagi. Karena : “ “ohh..sulit sekali untuk
memahami puisi yang satu lagi ini”. Aku lalu memejam mata seakan sedang
berpikir. Saat aku membuka mata, lihat apa yang aku temukan. Disampingku
siapakah dirimu...... “
“ “Cinta itu luar biasa. Coba kau
pikir benar-benar, apa yang akan sebenarnya terjadi jika Jack dan Rose tidak
bertemu. Mungkin Titanic akan tenggelam dengan sia-sia bukan. Walaupun akhirnya
mereka berpisah selamanya, setidaknya mereka berpisah bukan karena keegoisan
masing-masing. Karena saat mereka bersama, mereka harus melewati tantangan
terbesar, hidup mati. Luar biasa,” ceritamu padaku. “aku merasa luar biasa bisa
dekat denganmu,” kataku tiba-tiba, lalu dia tersenyum dan aku bisa merasakan
kebahagiaan yang keluar bersama rasa harunya, aku memeluknya. “aku akan
bersamamu selalu,“ “.
Rasanya
begini saja hidupku. Berjalan mengikuti langkah didepan. Agak lama aku sudah
berjalan dan jauh. Kemana aku berada kini aku tak menentu. Bila aku suka aku
datangi. Bila tidak, entahlah. Entah kenapa ditempat kini aku berhenti menjadi
perhatianku. Sebagai penyair yang seumur jagung ini, tak kan jauh sangat aku
dari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Pustaka lebar luas membentangi pandangan
mataku. Kenapa baru sekarang kutemukan tempat ini. Namun dalam pikiran dan hati
kacau seluruh. Aku tak tahu. Apa yang akan aku temukan...
“
“Dinegeri yang nun jauh dan masyur dikata orang. Bakal tentu mereka memiliki
puteri cantik bermahkota. Segala seperti surga untuknnya. Rambutnya yang pendek
tak kuasa menggariskan cahaya dari kening dan berujung dirahangnya yang
sempurna. Angin barat pun begitu ingin membelai pendek rambutnya. Senyumnya
yang menawan menggambarkan perempuannya. Bila matanya telah berkata, seperti
menusuk sampai ke dada, tidak sanggup berlama menatapnya. Dan yang paling
kutunggu dari sepasang bibirnya yaitu ketika dia cerewet,” Aku tertawa
menghentikan ceritaku, dirimu merasa tersinggung dan gemas padaku. “hmm.. sini
aku cerewetin kamu,” “.
—
Adakah
sekarang dapat kurasakan makna itu, pujangga muda. Haruskah aku kesini lagi,
berputar menghampiri sepuluh keliling rak. Memejam mata dan berharap
menemukannya berdiri disampingku lagi. Aku hanya ingin bersamanya. Pujangga
muda harus kah kau katakan itu: ”...Sehari
itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri...”[1] dalam puisi
Sia-sia-mu.
(harusnya
waktu itu aku tidak datang kesini, dan aku tidak akan seperti ini.)
*
Mungkin
kau tak harus kabur, sela
Bayang-bayangmu
Yang
menjauh dan menghindar
Dari
terang lampu
Ia
selalu menjauh dan menghindar
Dari
terang lampu
Ia
selalu mondar mandir
Mencari-cari
bentuk dan namanya
Yang
tak pernah ada[2]
Dari penyair tua telah pernah terkata
bahwa keinginan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Kenapa aku harus kabur,
mencari-cari, dan menghindar. Kenapa aku selalu berjalan padahal aku tidak tahu
apakah yang aku ingin temukan pernah ada. Hidup adalah bayang-bayang, yang
kadang kita ikuti atau kadang kita belakangi. Dari penyair tua telah pernah dia
katakan... Ada yang memisahkan kita, jam
dinding ini
Ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik
ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum
pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri[2]
Jangan hitung berapa waktu, karena waktu
dapat membuat luka. Jangan sembarang mendengar bisik-bisik, karena bisik dapat
mengubah rasa. Tapi aku menghitung waktu mendengar bisik-bisik. Hingga saat kau
meninggalkanku, tidak kutemukan dirimu ketika kita pertama dan kedua kalinya
bertemu. Hingga saat aku merindukanmu, tidak kutemukan dirimu ketika terakhir
kita bertemu. Tidak ada. Hanya air dan mata yang menjadi gerimis sebagai tanda
tak kuasa.
Aku
benar-benar salah saat itu. Tidak sepantasnya aku berlebihan terhadapmu. Seharusnya
aku tahu kita bertemu karena sama-sama mencari dan menemukan, berhenti setelah
menemukan yang dicari. Tidak ada yang harus pergi lagi, karena kita tahu
bagaimana sulitnya mencari. Kita pernah belajar untuk tersenyum saat merasa kecewa.
Harusnya aku tahu bahwa hidup terasa indah karena kita saling mensyukuri apa yang
kita punya. Harusnya aku tahu aku tidak bisa hidup tanpa dirimu disisiku.
Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun
didasar telaga yang senja
Kautaruh sinar bulan itu di cermin
yang sudah dahaga pada rupa
Semenjak lama
Katakan, siapa yang menyuruh
bayang-bayangmu menyenandungkan sepi
Dan serigala saja
Purnama menyisir hutan, selenting
daun pecah, kauhirup suaramu, gerimis
Mengalir di pipi[2]
**
Aku
pernah bertanya padamu : “ “mengapa kamu menemukanku, bukankah kamu bisa
menemukan siapa saja, selain aku?”. Kau lantas menjawab, “bukan masalah mengapa
atau siapa. Mungkin kata ‘bagaimana’ lebih cocok untuk mengawalinya. Bagaimana
kamu bisa mencintai dan bertahan untuk mencintai ketika kamu merasa telah menemukan seseorang yang sedang berdiri
didepan kamu sekarang ini adalah orang yang tepat buat kamu. Itu adalah
pertanyaan dan kamu bisa menjawabnya untukku,”. “aku....***
[1]
Puisi-puisi
Chairil Anwar: Nocturno (fragmen), Kepada Penyair Bohang, Sia-sia
[2] Puisi-puisi Abdul Hadi
WM: Bayang-bayang, Sajak Samar, Silhuet
0 komentar: