Minggu, 21 September 2014

CERPEN : Jurang Sajak

Jurang Sajak
            Sepuluh keliling rak telah aku hampiri. Belum puas rasanya. Sejenak aku berhenti, dan perhatian dalam tangan kiriku sebuah buku Terang Bulan yang tidak seterang hatiku. Betul kini gelisah tak menentu dan mau tak mau banyak berdatang hari yang lalu, yang penuh penyesalan yang penuh kegagalan. Ini rak sepuluh aku berhenti, dan seberkas bayang melekat disampingku seperti saat pertama bertemu. Kau tahu itu bukan. Ajak aku berbincang tentang maharaja dan maharatu mu itu lagi. Atau padang ilalang dibelakang rumahmu itu. Yang kau katakan saat pertemuan pertama kita saat itu : “ “hei kamu, maukah kamu membantuku?” pintamu. “hei.. tentu, apa yang mau dibantu?” jawabku polos. Kau pun mengatakan,”maukah kamu mendengarkan ceritaku?” “. Aku akan mendengarkan dengan seluruh indera. Ceritalah lagi untukku, jangan diam saja.
Bakalnya memang salahku juga. Sayang tidak kucatat benar-benar dalam ucapanku hari itu. Namun sekarang telah terlalu lama kau rasai, dan sepi mulai tak hingga. Ketika kau tatap aku dan wajah mu yang bertepuk separuh tangan, tak kutemukan bahasa rindumu lagi. Aku ingat saat biasanya sebelum ini terjadi, rindumu waktu itu : “ “tahu kah kamu?” tanyamu. “tahu apa?” aku balik bertanya. “saat aku rindu padamu, aku bisa membuat seribu puisi rindu” katamu. “lalu aku bisa apa?” tanyaku lagi. “kamu bisa membacanya, untukku,” “.
Aku memejam mata. Tak juga kutemukan makna Nocturno atau fragment-nya pujangga muda itu.................................................
       Dalam diriku terbujur keinginan,
                                juga tidak bernyawa.
                               ................................................
                               ................................................
       Pena dan penyair keduanya mati,
      Berpalingan![1]
Mungkinlah tentu belum dalam ilmu dan perasaku, bahkan dengan mega pustaka yang ada waktu itu. Sedang saat itu juga tiba-tiba kutemukan dirimu telah pas disisi sampingku. Mengorek-orek buku tak tertata rapi itu dalam rak. Tidak begitu jelas perkara siapa yang memulai mencoba mengajak bicara terlebih dahulu. Seketika kita telah akrab saja. Bahkan aku sampai terlupakan maksud utama kedatanganku, dan kedatangan awalmu juga mungkin.
Masih tercium jelas olehku, bentuk manja tulisanmu, dari puisi yang kau buat untuk aku dan kau ‘bersama selamanya’ itu. Waktu itu aku tanyakan padamu : “ “bagaimana bila kamu tidak bisa menulis dan membaca puisi untukku lagi?”. “jika memang harus begitu, aku akan merelakannya. Selama kamu ada untukku, menemani waktuku karena ditinggal pergi puisi-puisiku, selamanya” jawabmu tulus. “kalau aku tidak mau, bagaimana?” tanyaku dengan bercanda. “kalau begitu akan aku jewer telinga kamu sekuat-kuatnya,” “. Kau tersenyum tertawa bersamaku. Hari-hari yang indah sebelum waktu ini.
Kubacai dan mamah puisi “Kepada Penyair Bohang”nya si pujangga muda ini, dan terngiang pertanyaan dalam benakku.
Suaramu bertanda derita laut tenang...
Si Mati ini padaku masih berbicara
Karena dia cinta, di mulutnya membusah
Dan rindu yang mau memerahi segala
Si Mati ini matanya terus bertanya![1]
.......................................................
Kenapa aku merasakan sesuatu yang sangat dalam? Tetapi aku tidak bisa memahaminya, atau apa aku harus mengalaminya? Juga entahlah. Puisi yang menarik. Tidak salah aku berkunjung kesini. Walau aku harus berputar berkeliling. Sepuluh kali pula. Dan kutemukan rak sepuluh yang istimewa. Akan kubacai puisi pujangga muda ini lagi bila aku berkunjung kesini lagi. Karena : “ “ohh..sulit sekali untuk memahami puisi yang satu lagi ini”. Aku lalu memejam mata seakan sedang berpikir. Saat aku membuka mata, lihat apa yang aku temukan. Disampingku siapakah dirimu...... “
            “ “Cinta itu luar biasa. Coba kau pikir benar-benar, apa yang akan sebenarnya terjadi jika Jack dan Rose tidak bertemu. Mungkin Titanic akan tenggelam dengan sia-sia bukan. Walaupun akhirnya mereka berpisah selamanya, setidaknya mereka berpisah bukan karena keegoisan masing-masing. Karena saat mereka bersama, mereka harus melewati tantangan terbesar, hidup mati. Luar biasa,” ceritamu padaku. “aku merasa luar biasa bisa dekat denganmu,” kataku tiba-tiba, lalu dia tersenyum dan aku bisa merasakan kebahagiaan yang keluar bersama rasa harunya, aku memeluknya. “aku akan bersamamu selalu,“ “.  
Rasanya begini saja hidupku. Berjalan mengikuti langkah didepan. Agak lama aku sudah berjalan dan jauh. Kemana aku berada kini aku tak menentu. Bila aku suka aku datangi. Bila tidak, entahlah. Entah kenapa ditempat kini aku berhenti menjadi perhatianku. Sebagai penyair yang seumur jagung ini, tak kan jauh sangat aku dari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Pustaka lebar luas membentangi pandangan mataku. Kenapa baru sekarang kutemukan tempat ini. Namun dalam pikiran dan hati kacau seluruh. Aku tak tahu. Apa yang akan aku temukan...
“ “Dinegeri yang nun jauh dan masyur dikata orang. Bakal tentu mereka memiliki puteri cantik bermahkota. Segala seperti surga untuknnya. Rambutnya yang pendek tak kuasa menggariskan cahaya dari kening dan berujung dirahangnya yang sempurna. Angin barat pun begitu ingin membelai pendek rambutnya. Senyumnya yang menawan menggambarkan perempuannya. Bila matanya telah berkata, seperti menusuk sampai ke dada, tidak sanggup berlama menatapnya. Dan yang paling kutunggu dari sepasang bibirnya yaitu ketika dia cerewet,” Aku tertawa menghentikan ceritaku, dirimu merasa tersinggung dan gemas padaku. “hmm.. sini aku cerewetin kamu,” “.
—                                                                                            
Adakah sekarang dapat kurasakan makna itu, pujangga muda. Haruskah aku kesini lagi, berputar menghampiri sepuluh keliling rak. Memejam mata dan berharap menemukannya berdiri disampingku lagi. Aku hanya ingin bersamanya. Pujangga muda harus kah kau katakan itu: ”...Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri...”[1] dalam puisi Sia-sia-mu.
(harusnya waktu itu aku tidak datang kesini, dan aku tidak akan seperti ini.)
*
Mungkin kau tak harus kabur, sela
Bayang-bayangmu
Yang menjauh dan menghindar
Dari terang lampu

Ia selalu menjauh dan menghindar
Dari terang lampu
Ia selalu mondar mandir
Mencari-cari bentuk dan namanya
Yang tak pernah ada[2]
Dari penyair tua telah pernah terkata bahwa keinginan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Kenapa aku harus kabur, mencari-cari, dan menghindar. Kenapa aku selalu berjalan padahal aku tidak tahu apakah yang aku ingin temukan pernah ada. Hidup adalah bayang-bayang, yang kadang kita ikuti atau kadang kita belakangi. Dari penyair tua telah pernah dia katakan... Ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
                                                 Ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
                                                 ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
                                                 tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri[2]
Jangan hitung berapa waktu, karena waktu dapat membuat luka. Jangan sembarang mendengar bisik-bisik, karena bisik dapat mengubah rasa. Tapi aku menghitung waktu mendengar bisik-bisik. Hingga saat kau meninggalkanku, tidak kutemukan dirimu ketika kita pertama dan kedua kalinya bertemu. Hingga saat aku merindukanmu, tidak kutemukan dirimu ketika terakhir kita bertemu. Tidak ada. Hanya air dan mata yang menjadi gerimis sebagai tanda tak kuasa.
            Aku benar-benar salah saat itu. Tidak sepantasnya aku berlebihan terhadapmu. Seharusnya aku tahu kita bertemu karena sama-sama mencari dan menemukan, berhenti setelah menemukan yang dicari. Tidak ada yang harus pergi lagi, karena kita tahu bagaimana sulitnya mencari. Kita pernah belajar untuk tersenyum saat merasa kecewa. Harusnya aku tahu bahwa hidup terasa indah karena kita saling mensyukuri apa yang kita punya. Harusnya aku tahu aku tidak bisa hidup tanpa dirimu disisiku.

            Hening. Sepantun hujan yang risik mengalun didasar telaga yang senja
            Kautaruh sinar bulan itu di cermin yang sudah dahaga pada rupa
                        Semenjak lama
            Katakan, siapa yang menyuruh bayang-bayangmu menyenandungkan sepi
                        Dan serigala saja
            Purnama menyisir hutan, selenting daun pecah, kauhirup suaramu, gerimis
                        Mengalir di pipi[2]
**
            Aku pernah bertanya padamu : “ “mengapa kamu menemukanku, bukankah kamu bisa menemukan siapa saja, selain aku?”. Kau lantas menjawab, “bukan masalah mengapa atau siapa. Mungkin kata ‘bagaimana’ lebih cocok untuk mengawalinya. Bagaimana kamu bisa mencintai dan bertahan untuk mencintai ketika kamu merasa telah  menemukan seseorang yang sedang berdiri didepan kamu sekarang ini adalah orang yang tepat buat kamu. Itu adalah pertanyaan dan kamu bisa menjawabnya untukku,”. “aku....***

 [1] Puisi-puisi Chairil Anwar: Nocturno (fragmen), Kepada Penyair Bohang, Sia-sia
[2] Puisi-puisi Abdul Hadi WM: Bayang-bayang, Sajak Samar, Silhuet 

0 komentar: